Welcome
Hello Everybody! :D
Welcome to my blog ^_^
Kalian akan menemukan berbagai informasi menarik di blog ini ...
Mulai dari hal-hal seputar peri (saya pecinta peri XD), berbagai hal tentang dunia Harry Potter (I'm Potterheads), fanfiction, cerpen, puisi, dan masih banyak lagi :)
Saya suka imajinasi, saya suka dunia menulis, dan saya harap kalian menyukai hal-hal yang saya tuangkan di blog ini :)
At least, enjoy ^^ dan terima kasih sudah berkunjung :)
.
.
Signed,
Fitri Ramadhani (Miss Loony).
Diberdayakan oleh Blogger.
Mengenai Saya
Minggu, 30 Desember 2012
Cerpen Lama
Mmmhh.. hy guyssssss...!! Fitri nongol
lagi nih. Ini ada postingan cerpen karya Fitri sendiri pas masih kelas satu SMA
(masih 14tahun). Jadi Fitri minta maaf banget yah kalau bahasanya masih kacau
dan amburadul dan bikin cerpen ini jadi gak layak baca... Tapi kalau ada reader
yang sudi baca, Fitri ucapin terima kasih deh..hehehe. Ini juga diadaptasi dari
dunia nyata kok—kisah saya sendiri sih sebenernya—curcol. Tapi ah gak penting,
langsung aja deh monggo dibaca ^_^... Happy reading guysss!!! Semoga juga pesan
moralnya bisa didapet....
Hari Terakhir di Depan Mata
Saat
itu, aku masih berusia enam tahun. Masih berstatus sebagai anak lugu yang duduk
di bangku kelas dua sekolah dasar.
Seperti
anak kecil kebanyakan, aku pun seperti mereka. Menjalani hari-hari dengan
bersekolah dan bermain. Tidak ada beban pikiran yang menimbun otak kecilku.
Rasanya sangat nyaman, bagaikan layangan yang melayang bebas di udara, terputus
dari ikatan benangnya.
Hidupku terasa begitu indah dan bahagia. Meskipun kala itu aku tidak tinggal bersama kedua orangtuaku. Karena kebetulan saat itu ayah bertugas di luar kota. Dan mengingat umurku yang sudah sepantasnya untuk mengenyam bangku pendidikan, maka ayah dan ibu memutuskan untuk menitipkanku kepada kakek dan nenek di desa, tepatnya di Barru. Berhubung saat itu kakek menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah dasar yang ada di kabupaten Barru, maka aku pun di sekolahkan disana, dan jauh dari ayah dan ibuku. Meskipun demikian, aku tetap senang karena kakek dan nenek begitu menyayangiku dengan sepenuh hati mereka.
Hidupku terasa begitu indah dan bahagia. Meskipun kala itu aku tidak tinggal bersama kedua orangtuaku. Karena kebetulan saat itu ayah bertugas di luar kota. Dan mengingat umurku yang sudah sepantasnya untuk mengenyam bangku pendidikan, maka ayah dan ibu memutuskan untuk menitipkanku kepada kakek dan nenek di desa, tepatnya di Barru. Berhubung saat itu kakek menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah dasar yang ada di kabupaten Barru, maka aku pun di sekolahkan disana, dan jauh dari ayah dan ibuku. Meskipun demikian, aku tetap senang karena kakek dan nenek begitu menyayangiku dengan sepenuh hati mereka.
Hari
demi hari berlalu, memang masih singkat namun banyak menyisakan kesan-kesan
tersendiri yang terekam di memori ingatanku. Mulai dari pengalaman mendapat
teman baru yang baik hati, hingga pengalaman mendapat teman baru yang ternyata
munafik dan iri kepadaku. Yah ...... disinilah pikiranku agak mulai terganggu,
namun kutanggapi dengan cuek-cuek saja, aku tidak mau ambil pusing. “Memangnya
dia siapa ?” Pikirku dalam hati. Dengan bersikap demikian, pikiranku bisa menjadi
sedikit lebih tenang. Yah begitulah pengalaman getir menjadi orang asing di
tengah-tengah orang sok. Itulah resiko menjadi anak baru di desa yang baru
pula.
Suatu
malam, ketika aku tertidur pulas di atas ranjang berlapiskan kasur empuk, tiba-tiba
saja mimpi buruk menggerogoti tidurku yang nyenyak. Aku bermimpi bertemu hantu
‘kuntilanak’. Di dalam mimpiku itu, aku melihat kuntilanak itu berusaha merebut
sesuatu dariku yaang aku sendiri tidak tahu apa gerangan sesuatu itu. Mimpi
buruk itu sempat membuatku mengalami trauma yang lumayan lama. Maklum,
mengingat usiaku yang masih tergolong anak kecil ketika itu, maka tidak heran
mimpi seperti itu kuanggap mimpi yang
sangat menyeramkan bagi anak berusia enam tahun sepertiku saat itu.
Keesokan
harinya, aku pun menceritakan mimpi yang ku anggap seram itu kepada kakek dan
nenek, berharap mereka dapat menanggapi mimpiku sesuai dengan harapanku. Namun
yang membuatku terheran-heran bukan kepalang, bukannya malah turut
merasakan mimpi buruk yang ku alami,
justru mereka malah tertawa mendengarkanku. Aku jadi sedikit kesal dengan hal
itu. Mereka bilang mimpiku itu hanya bunga tidur. Sangat berlawanan dengan
pikiranku ketika itu, yang aku rasa bahwa mimpi tersebut adalah pertanda buruk.
Namun apa daya, sebab saat itu aku hanyalah seorang anak kecil lugu yang tidak
bisa berkomentar banyak dengan pendapat mereka yang terlalu menganggap remeh
mimpiku. Tiba-tiba saja ............. “Kringgg..Kringgg....” Suara handphone kakek berdering. Kemudian handphone itu diberikan kepadaku,
ternyata itu adalah telepon dari ibu yang katanya akan mengunjungiku dalam
waktu dekat ini karena sudah rindu berat kepadaku. Aku sangat senang
mendengar hal itu, aku langsung saja
lupa dengan mimpi buruk yang ku alami semalam saking senangnya. Dengan
demikian, tanpa sadar mimpi burukku itu menghilang sementara dari ingatanku
bagaikan bui ditelan ombak.
Hari
berikutnya, aku pun bangun sepagi biasanya untuk menyiapakan diri untuk
berangkat ke sekolah bersama kakek. Padahal hari itu aku mendapat giliran masuk
sekolah jam sepuluh pagi. Namun entah angin apa yang membuatku menjadi sangat ingin
berangkat ke sekolah sepagi itu dan diantar oleh kakek, padahal jika dipikir
jam sepuluh itu masih sangat lama. Dan tanpa ikut kakek, aku pun bisa pergi ke
sekolah dengan diantar nenek. Yah namun aku sama sekali tidak memikirkan yang
macam-macam kala itu, pikiranku masih sangat polos. “Nek.. kaus kakiku dimana
?” Kataku merengek kepada nenek minta dicarikan kaus kakiku yang entah dimana
rimbanya. Nenek pun mencarikan kaus kakiku dan memakaikannya dikakiku yang
masih super imut saat itu. Memang tidak heran jika aku masih sangat manja kala
itu. Namun sampai sekarang pun sifat manja itu masih tersisa sedikit. Entah
kapan bisa hilang sepenuhnya.
Pagi
itu, aku pun berangkat ke sekolah bersama kakek tersayangku dengan didahului
berpamitan pada nenek. Di perjalanan, aku merasa sangat senang bisa diantar
kakek. Padahal diantar kakek adalah hal yang sudah sangat biasa aku rasakan.
Namun hari itu terasa begitu berbeda bagiku. Serasa sangat istimewa.
Setibanya
di depan sekolah, aku pun berpamitan kepada kakek sambil berlari-lari kecil
memasuki lapangan sekolahku. Sengaja aku pamit, karena kata kakek ia ada urusan
sebentar diluar sekolah dan katanya ia akan kembali nanti dan menjemputku lagi
sepulang sekolah. Aku pun turut saja mendengarkan perintah kakek.
Lama
aku menunggu di sekolah, sambil terus-terusan menatap jam tangan yang kupakai
ketika itu. Namun ternyata jarum jam masih lama menunjukkan pukul sepuluh yang
sudah ku nantikan sejak tadi. Dentuman detiknya serasa begitu sangat lama. Aku
jadi bosan menunggu terlalu lama, mumpung saat itu ada teman yang mengajakku ke
rumahnya, maka akhirnya kuputuskan untuk berkunjung ke rumah temanku yang
kebetulan jaraknya dari sekolah hanya cukup dengan menyebarang jalan saja.
“Daripada menunggu sendirian disini, lebih baik sambil menunggu jam masuk, aku
jalan-jalan saja ke rumah temanku”. Kataku dalam hati. Tanpa berpikir panjang,
ku turutilah ajakan temanku itu dan aku pun bergegas ke rumahnya. Kebetulan
rumahnya adalah rumah panggung, jadi sambil menunggu jam masuk sekolah, aku pun
bisa menyaksikan pemandangan indah dari atas sana. Tidak lama kemudian, aku
melihat seseorang, lebih tepatnya seseorang nenek tua. Ia terlihat berlari
tergesa-gesa menuju ke arah sekolah. Keringatnya nampak bercucuran di dahi
keriputnya. Aku serasa mengenalnya, namun aku belum bisa mengingat dengan baik
bahwa siapa ia sebab aku pun melihatnya
hanya samar-samar, tidak terlalu jelas raut wajahnya, hanya sekedar nampak melintas.
Apalagi aku melihatnya dari atas rumah panggung.
“Assalamualaikum,
maaf bu numpang tanya. Apa ibu melihat Fitri ? Cucunya pak Kasir yang belum
lama ini bersekolah disini.” Tanya nenek itu kepada seorang guru yang kebetulan
ia temui di depan sekolah. Mungkin karena jarak yang tidak terlalu jauh, maka
aku bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas. Mendengar namaku
disebut-sebut, aku pun menjadi kaget. “Ada apa ini sebenarnya ?? Kenapa ada
orang yang mencariku namun dengan raut wajah yang begitu sedih dan panik??” Aku
tidak henti-hentinya bertanya dalam hati saking terheran-herannya ketika itu.
Aku pun bergegas turun dengan cepat dari rumah panggung itu dan menemui nenek
tersebut. Setelah aku melihat wajahnya secara jelas, aku baru sadar bahwa
ternyata itu adalah saudara perempuan kakek. Aku semakin panik. Tanpa menunggu lebih
lama lagi, aku pun segera bertanya dengan tergesa-gesa, bahwa apa sebenarnya
yang telah terjadi. Sebab aku merasakan bahwa perasaanku sudah tidak enak lagi
ketika itu. Serasa ada bongkahan batu besar yang mengganjal perasaanku.
“Kakekmu
kecelakaan nak !!! Mari segera pulang bersama nenek.” Ucap nenek dengan wajah
yang pilu, matanya sudah nampak berlinang-linang. Aku pun yang mendengarkan hal
itu seolah-olah tidak percaya. Badanku serasa kaku tak bisa bergerak lagi,
bibirku menjadi bungkam dan membisu, serta pikranku seketika itu juga berubah
total, yang tadinya senang kini berubah menjadi campur aduk dan kacau-balau.
Kabar itu bagaikan tamparan bagiku di pagi yang masih buta itu.
“Apa??
Kakek kecelakaan ? Bagaimana itu bisa terjadi ? Sedang yang mengantarku ke sekolah tadi, adalah kakek
sendiri.” Aku masih seakan tak percaya dengan kabar itu. Aku merasa begitu
terpukul mendengarnya. Air mataku pun tak terbendung lagi, aku tak kuasa
menahan isak tangis kesedihanku. Akhirnya butiran-butiran air mataku pun runtuh
menjadi lelehan-lelehan miris yang turun
membasahi pipiku. Aku sangat sedih. Dan tanpa menunggu lagi, aku pun segera
pulang bersama nenek. Terpaksa hari itu aku harus pulang ke rumah dengan berjalan
kaki, sebab tidak ada satupun kendaraan umum yang aku dan nenek dapati ketika
itu.
Tidak
seberapa lama kemudian, akhirnya kami pun tiba juga di rumah. Lelah yang
mendera kami ketika itu, sebab perjalanannya cukup jauh juga. Namun itu semua seakan
tidak ada artinya bagiku. Sebab yang ada di pikiranku ketika itu semata-mata
hanyalah rasa cemas terhadap kakek yang aku sayang, aku takut sesuatu yang
buruk menimpa kakek. Dan tentu saja aku tidak mau jika hal itu sampai terjadi.
Aku tidak ingin menjadikan pertemuan tadi pagiku dengan kakek menjadi pertemuan
yang terakhir kalinya untuk selama-lamanya pula. Tak henti-hentinya aku berdoa
dalam hati kecilku berharap kakek tidak kenapa-napa.
Kami
pun berombongan dengan kerabat yang lainnya menuju ke rumah sakit tempat dimana
kakek dirawat pasca kecelakaan. Kebetulan saat itu nenek sudah ada lebih dulu
disana. Setibanya di rumah sakit, kami pun mencari ruangan kakek dirawat. Kata
dokter yang menanganinya, keadaan kakek sudah terlalu parah, sehingga ia tidak
bisa menanganinya lagi dan menyarankan agar kakek dirujuk ke rumah sakit di
kota Makassar agar mendapat pertolongan yang sebaik mungkin. Tanpa menunggu
lama lagi, kakek pun segera dbawa pergi dari rumah sakit itu untuk dipindahkan
ke rumah sakit di kota Makassar. Namun takdir berkata lain, ketika mobil yang
membawa kakek masih berada di daerah Pangkep, kakek sudah menghembuskan nafas yang
terakhirnya. Aku sangat sedih akan hal itu. Hatiku remuk, hancur teriris-iris
membayangkan bahwa kakek benar-benar telah tiada. Seolah-olah aku tidak percaya
akan hal itu. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Semua kerabat pun demikian,
terlebih lagi nenek yang akhirnya menjadi seorang janda karena ditinggal pergi
oleh kakek.
Akhirnya
jenazah pun tiba di rumah duka diiringi dengan berbagai macam isak tangis
syahdu dari seluruh tetangga, kerabat, beserta rekan-rekan kerja kakek. Karena
kakek memang adalah sosok yang banyak dikenal orang dimana-mana.
Semuanya
tidak ada yang menyangka bahwa kakek akan pergi secepat itu dan dengan cara yang
tragis seperti itu. Namun itulah garis hidup manusia, tidak ada yang dapat
mengetahuinya. Begitu pula dengan ajal seseorang, tiadak ada seorang pun yang
tahu kapan ajal dan maut menjemput dan
merenggut paksa nyawa manusia. Dan hal itu pula lah yang telah terjadi pada
kakek. Mau tidak mau, aku harus melepas kepergiannya dengan ikhlas meski sakit
dan perih hati ini menerima kenyataan pahit itu. Namun apa daya, semua yang ada
di muka bumi ini tanpa terkecuali hanyalah titipan-Nya
yang bisa Dia ambil kembali kapan saja ketika Dia menginginkannya.
-END-
Hmm....sorry yah reader(s) kalau ceritanya kependekan—namanya juga
cerpen*ditimpukin* Sorry juga kalau ceritanya gak seru atau jelek banget, tapi
disinii Fitri mau usahain buat nampilin nilai moral dari cerpen ini. Dari
cerpen ini, kita bisa nyimpulin bahwa kematian seseorang itu merupakan rahasia
Ilahi, gak ada satupun makhluk ciptaan-Nya yang tahu dan bisa nge-hindar dikala
maut udah didepan mata. So, kita sebagai manusia—yang merupakan makhluk ciptaannya—
harus pinter-pinter manfaatin waktu yang dikasih Tuhan ini dengan
sebaik-baiknya untuk masa depan kita nantinya di akhirat. Udah ceramahnya bu?
Ahahaha, jujur aja kayak ceramah deh jadinya—serasa jadi ustadzah*dilemparin
batu..hohohho..... Btw, kalau gitu thank’s sekali lagi buat reader(s) kalau ada
yang mampir buat baca cerpen abal ini, yaudah deh daripada bosen dengerin saya
ngoceh terus—gak berhenti-berhenti, saya pamit aja deh. Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)




0 komentar:
Posting Komentar