Welcome
Hello Everybody! :D
Welcome to my blog ^_^
Kalian akan menemukan berbagai informasi menarik di blog ini ...
Mulai dari hal-hal seputar peri (saya pecinta peri XD), berbagai hal tentang dunia Harry Potter (I'm Potterheads), fanfiction, cerpen, puisi, dan masih banyak lagi :)
Saya suka imajinasi, saya suka dunia menulis, dan saya harap kalian menyukai hal-hal yang saya tuangkan di blog ini :)
At least, enjoy ^^ dan terima kasih sudah berkunjung :)
.
.
Signed,
Fitri Ramadhani (Miss Loony).
Diberdayakan oleh Blogger.
Mengenai Saya
Senin, 29 Oktober 2012
Fanfiction Nobita dan Shizuka
-->
-End-
Hai hai hai ..!
:D
Hmmm... Ada yang
suka fanfic?? Fitri juga suka banget loh...(siapa yang nanyain yahh???)
Kali ini saya mau nge-post fanfic
pertama saya *nyengirgakjelas_ngedip-ngedipin-mata*
Ini fanfic-nya pake tokoh Doraemon-sirobotkucingbirubulat-kayakbolapingpong-eh?*kabuurr*
Nggak.. bercanda kok, Doraemon kan
robot kucing biru yang triple unyuuu hehehe.
Okedeh langsung aja yakkss.. yukk
mariii.....:)
-oOo-
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini kepunyaan Fujiko.F.Fujio,
saya ‘cumi’ alias cuma minjem doang. I don’t own them. I just have a plot and
the story of this fic.
Pairing : Nobita/Shizuka.
Genre : Friendship, Romance.
Rated :
T (teen).
Timeline : Disini ceritanya, Nobita dan Shizuka udah
kelas satu SMA.......Dan Nobita udah enggak sebodoh yang dulu, yah bisa
dibilang disini dia sudah cukup pinterr-lah..Dan yang terpenting, disini Nobita
udah jadi remaja yang—err..cool yah meskipun masih ada sifat kekanakannya sih,.......hehehe...
A/N
: Hmm... akhirnya ini fanfiction jadi juga *ngelusdada-lega...oh iyaa maaf
banget yah kalo fic pertamaku –yang cuma oneshoot— ini jelek banget L soalnya aku juga baru belajar, jadi
tolong dimaklumi segala kekurangan yang ada pada fic-ku ini. Btw, disini ada
kilasan flashbacknya, jadi aku harap kalian gak bingung dan bisa mengerti
alurnya gimana. Tapi aku mau ngasih ucapan terima kasih sebelumnya buat readers
’kalau’ ada yang mau baca fic GaJe saya ini hehehe... Di komen juga boleh kok,
asalkan komennya bersifat membangun J
Warning!!
Agak OOC, GaJe, bahasa berantakan, alur kecepetan, miss typo mungkin? Entahlah
dan berbagai macam kekurangan dan ketidaksempurnaan ‘tingkat akut’ lainnya,
maklum baru pemula hihihi...
Happy Reading guyysssss (emang ada
yang mau baca? -_- halaahh--ngarepp)...
Don’t like?? Don’t
read
J
Nobita-kun
Aishiteru
(Oleh :
Nurulfitriana Ramadhani)
“Doraemon ....... hikssss ... hikssss ...” Nobita baru saja pulang
sekolah, dan sekarang ia menghambur masuk kamar penuh dengan taburan kristal
kesedihan—menangis (lebih tepatnya begitu) tersedu-sedu sembari mengadu pada
Doraemon yang sedari tadi tengah asyik
duduk diatas lantai kamar, menikmati kue dorayaki yang dibelikan ibu sambil
membaca buku baru yang ia beli tadi pagi di salah satu toko buku emperan ketika
ibu menyuruhnya berbelanja ke pasar, judulnya ‘Cara Memikat Kucing Pujaan Tanpa
Pelet’(?) Ia terlihat begitu serius, sebelum akhirnya menyadari kehadiran anak
berbaju kuning cerah dengan bingkai kacamata besar yang kini tengah
meraung-raung tidak jelas dihadapannya.
Anak itu baru saja pulang dari les tambahannya.
Anak itu baru saja pulang dari les tambahannya.
“Kamu kenapa lagi Nobita? Kamu dikerjai Giant dan Suneo lagi?” duga
Doraemon. ”Sudahlah, tidak usah bersikap cengeng seperti itu,” Doraemon menenangkan.
“Tidak Doraemon ... ini tidak seperti apa yang kamu kira, ini
lebih parah ... Tolong akuuu Doraemooon ... hikssss .... hikssss,,” Nobita merajuk
dan masih saja tetap menangis dengan gaya khasnya yang seperti biasa.
“Lalu ada apa?” tanyanya dengan sedikit santai sambil tetap
mengunyah dorayakinya dengan nafsu makan yang tidak sedikitpun berkurang karena
adanya Nobita yang merengek.
“Shi ... Shi ... Shizuka ... hiks ... hiks ....” Nobita mulai
menjelaskan dengan terbata-bata karena isakan tangisnya yang masih
meraung-raung.
“Shizuka kenapa?” sergap Doraemon lagi, tapi kali ini dengan
ekspresi kebingungan sambil mengalihkan pandangannya ke anak laki-laki
didepannya.
“Tadi di sekolah aku dengar Shizuka diajak ‘dinner’ malam ini sama
Dekisugi. Dan Shizuka setuju begitu saja. Bagaimana ini Doraeeemon, bagaimana
kalau mereka berdua nantinya bakal jadian? Hikss ... hiks ... pasti aku akan
patah hati ..,” adu Nobita segera pada robot kucing berwarna biru kesayangannya
itu.
“Apa kamu bilang??” Doraemon melotot kaget. “Wah kalau begitu kita
harus berbuat sesuatu, coba kamu telepon Shizuka dan ajak dia untuk makan malam
juga malam ini,” kata Doraemon dengan tampang yang mulai serius pertanda ia
telah mengerti keadaan yang tengah terjadi. “Siapatau saja dia akan berubah
pikiran hingga membatalkan janjinya dengan Dekisugi dan memilih jalan sama
kamu,” sambungnya kemudian. Nobita yang mendengar nasihat sahabatnya itu hanya
bisa bengong, mungkin otaknya ‘sementara dalam proses’ memikirkan saran
Doraemon.
OoOoO
Nobita :
“Halo ... Selamat siang ... Bisa bicara dengan Shizuka?”
Shizuka :
“Iya halo, selamat siang. Disini Shizuka, dengan siapa?”
Nobita :
“Ini aku Nobita.”
Shizuka :
“Oh Nobita, ada apa Nobita?” *dengan nada ramah seperti biasanya.
Nobita :
“Mmmhh ... anu ...” *gugup
Shizuka :
“Kenapa Nobita ?”
Nobita :
“Ehh,, se .. se .. “/aduh gimana cara ngomongnya nih/-dalamhati
Shizuaka :
“Ada apa sih Nobita?”
Nobita : “Shi..Shizuka, ka..kamu mau tidak makan
malam bersamaku malam ini ?!!” *gugup dengan nada sedikit membentak dan jeennggg!!!
serasa tewas ditempat.
Shizuka : “Nanti malam? Mmh
... Maaf Nobita, sayangnya aku sudah terlanjur ada janji sama Dekisugi nanti
malam.” *ekspresi agak menyesal.
Nobita : *dengan wajah
pucat “Oh be..begi..begitu...iya..i..ya ti...dak apa” Ucapnya serasa lemas dan membeku.
Shizuka : “Aku minta
maaf Nobita, aku tidak bermaksud, tapiiiii.....tidak mungkin aku membatalkan
janji yang sudah kusetujui sendiri, sekali lagi aku minta maaf yah Nobita”
*sambil menunduk merasa bersalah.
Nobita :
“Ng..................”(speechless)...
Shizuka : “Halo? Nobitaa?
Kamu masih disana? Kamu tidak apa-apa kan? Nobita, kau bisa mendengarku?
Haloo?!” *serbuan tanya beruntun Shizuka dengan nada khawatir.
Dan “tiiiiiiiiiiiiiiiitttt..............................” Sambungan
telepon antara Nobita dan Shizuka terputus seketika. Shizuka nampak
terbingung-bingung akan hal ini. Tentu saja gadis cantik itu merasa khawatir
ketika teleponnya dengan Nobita terputus begitu saja tanpa kata pamit seperti
yang biasanya dilakukan Nobita setiap kali menelponnya.
“Nobita kenapa ya? Apa dia
baik-baik saja?” gumam Shizuka ditengah kebingungannya lebih kepada dirinya
sendiri-dengan raut wajah yang super khawatir. “Perasaanku jadi tidak enak
sekali, semoga Nobita tidak apa-apa,” ucapnya sekali lagi dengan nada yang tak
kalah cemasnya dengan yang tadi, ia kemudian meletakkan gagang teleponnya
merapat kembali diatas meja dekat ruang tengahnya dan beranjak ke kamarnya
dengan segala pikiran yang masih berkecamuk dibenaknya.
OoOoO
Bel sekolah berbunyi nyaring pertanda saatnya masuk kelas. Secara
bersamaan, wajah kusut milik Shizuka-pun mulai nampak memasuki ruang kelas
dengan langkah yang lemas, sepertinya dia kurang tidur, eh? Atau kurang
bersemangat hari ini? Entah karena apa, susah dijelaskan. Tiba-tiba sebuah
sentuhan tangan hangat mendarat dibahu kanannya yang spontan membuatnya
terkejut. Seketika itu ia membalikkan badannya untuk mengetahui siapa gerangan
pemilik tangan misterius yang menyentuhnya itu.
“Selamat pagi Shizuka.” sapa anak laki-laki itu ramah diselingi
dengan senyum lebar dari wajah tampannya.
“Hey Dekisugi, kau rupanya.. selamat pagi juga,” jawab Shizuka juga
ramah namun hanya dihiasi senyum tipis dari wajah cantiknya. Tidak seperti
biasanya, hari ini wajah cantiknya tidak terlihat se-berseri biasanya.
“Kau kenapa Shizuka? Apa gara-gara yang semalam? Aku minta maaf
soal yang itu yah, aku harap kau tidak marah padaku,” ucapnya lirih.
“Aku tidak marah Dekisugi, aku juga tidak apa-apa kok,” sembari
melemparkan senyum tipis—lagi (yang lebih tepatnya senyum dipaksakan). “Mungkin
saja aku hanya merasa kelelahan saja,” terangnya lagi.
“Kau yakin tidak apa-apa? Sungguh aku khawatir denganmu, asal kau
tau saja Shizuka, aku begitu cemas memikirkanmu,” anak laki-laki itu terlihat
sangat serius, bola mata hitamnya terlihat bekilat-kilat, begitu fokus pada
objek yang tepat berada dihadapannya sekarang yang tak lain dan tak bukan
adalah Shizuka, gadis cantik pujaan banyak anak lelaki dikelasnya (dan
sebenarnya temasuk pujaannya juga). Suatu ekspresi yang memang langka bagi
seorang Dekisugi apalagi dihadapan seorang gadis, seperti sekarang ini.
“Kau tidak perlu mencemaskanku sebegitunya Dekisugi, aku baik-baik
saja,” Shizuka kembali tersenyum sambil berlalu meninggalkan Dekisugi yang
masih terdiam menatapi punggung gadis itu membelakanginya. Kemudian gadis itu
berjalan gontai menuju mejanya yang terletak persis disamping meja Nobita.
Kini, pandangannya beralih ke arah meja Nobita. Benar saja, anak itu tak datang
ke sekolah rupanya. Shizuka masih terus bertanya-tanya dalam hati, matanya
sibuk menelusuri seisi ruangan namun sosok yang dicari-cari tak kunjung
ditemukan. ‘Semoga Nobita tak kenapa-kenapa, aku harus menjenguknya sepulang
sekolah nanti’... batinnya kemudian.
“Hey Shizuka, kenapa melamun begitu? Nanti dilihat pak guru loh,”
bisik seorang anak laki-laki gemuk—Giant—yang diikuti tatapan membenarkan dari
anak kurus disebelahnya—siapa lagi kalau bukan Suneo?—dari bangku belakang
membuyarkan lamunan Shizuka yang suaranya sudah sangat dikenalnya. Ia segera
merasa ditarik kembali ke permukaan dunia nyata, meninggalkan bayangan khayal
yang sedari tadi mengusik konsentrasinya. Dan benar saja, ternyata sekarang ia
tengah diperhatikan pak guru, yang sukses membuat Shizuka jadi salah tingkah
dan meringis sembari tersenyum kecut. Apa yang sedang Shizuka pikirkan? Ya, tentu saja ia
sedang memikirkan seseorang yang beberapa waktu ini ia khawatirkan.
OoOoO
“Permisii,” terdengar suara sapaan dengan nada sopan dibalik
pintu. “Permisiii,” ucap sang gadis itu lagi, setelah merasa sapaannya yang
pertama tak ada yang mendengar. Dan akhirnya terdengar suara derap langkah yang
semakin dekat dengan jaraknya yang diikuti dengan terbukanya pintu, menampakkan
sesosok wanita dengan dress warna merah mudah menempel ditubuhnya dan sebuah
kacamata besar terlihat bertengger diwajahnya--sama seperti Nobita.
“Eh Shizuka rupanya,” ucap
wanita itu ramah diselingi seulas senyuman lebar menghias wajahnya, yang sudah
pasti kita ketahui adalah nyonya Tamako-ibu Nobita.
“Mmhh, iya..Selamat siang tante. Apa Nobita-nya ada di rumah?
Karena pak guru bilang ia sedang sakit?” kata gadis—lebih kepada bertanya—yang
tengah berdiri didepan pintu masuk itu, dengan nada yang tak kalah ramahnya.
“Oh Nobita, dia ada diatas, di kamarnya bersama Doraemon. Hari ni
dia memang tak ke sekolah, karena tiba-tiba saja suhu badannya naik, ia demam.
Silakan ke kamarnya saja,” jawab ibu Shizuka seraya mempersilakan Shizuka masuk
dan menjenguk Nobita di kamar. Shizuka pun mengangguk kecil sambil tersenyum,
dan segera menuju ke lantai atas—ke kamar Nobita tepatnya. Sementara itu, ibu
Nobita beranjak menuju dapur, barangkali membuatkan minuman dan camilan untuk
Shizuka.
OoOoO
Suara pintu digeser, tiba-tiba mengalihkan pandangan dua pasang
mata didalam ruangan-kamar-itu, menampakkan seorang gadis manis yang kini
tengah menatap cemas ke sisi ruangan. Ya, dia Shizuka. Sontak saja
kehadirannya, membuat Nobita terkejut bukan main. Dan hey, aku hampir lupa,
ternyata si robot kucing biru-Doraemon juga ikut terkejut melihat siapa yang
datang. Gadis itu kemudian melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang belum
berubah, kini ia mendekat ke sisi ruangan, dimana disitu seorang anak
berkacamata tengah berbaring lemas diatas kasurnya sambil terus manatap sosok
gadis didepannya—tak percaya, sesekali ia juga mengerjap-ngerjapkan matanya.
Tak lama kemudian, pintu kamar kembali digeser seseorang, yang sukses
mendapatkan perhatian dari dua—ralat—maksudnya tiga pasang mata didalam ruangan.
Tenyata itu nyonya Tamako-ibu Nobita, yang kini sedang membawa nampan berisi
tiga gelas jus lemon dan camilan diatasnya.
“Maaf mengganggu anak-anak, aku hanya ingin membawakan ini,” kata
wanita itu dengan ramah, melirik nampan—mengisyaratkan apa yang sedang ia bawa.
“Ah, seharusnya tak perlu repot-repot begitu tante,” balas sang
gadis yang kita ketahui adalah Shizuka itu.
“Aku tidak pernah merasa kerepotan, justru aku sangat senang atas
kunjunganmu, karena ternyata masih ada teman Nobita yang peduli padanya. Kalau
begitu, silakan dilanjutkan lagi aktivitas kalian,” ucap wanita itu seraya
berdiri dan meninggalkan kamar Nobita yang langsung dibalas dengan anggukan
kecil serta senyuman manis sang gadis.
OoOoO
“Oh, begitu rupanya. Semoga Nobita cepat sembuh yah. Mmhh..
sepertinya sekarang aku harus pulang, sudah sore. Nanti dicari ibuku,” Shizuka
berpamitan dengan Nobita dan Doraemon.
“Baiklah, apa mau kuantarkan dengan baling-baling bambu?” tanya
Doraemon.
“Tidak usah Doraemon, aku bisa pulang sendiri. Tidak perlu
mencemaskanku,” ucap gadis itu seraya berdiri dan meninggalkan kamar. Akan
tetapi sebelum ia sukses menggeser pintu kamar itu sepenuhnya, tiba-tiba
langkahnya terhenti karena mendengarkan seseorang memanggil namanya.
“Shizuka...,”
“Mmhh, iya ada apa Nobita?”
“Eh, mmhh..aku, emmh.. aku hanya ingin bilang, te..te-rimakasih
karena telah mau datang menjengukku,” kata Nobita, wajahnya bersemu merah. Dan
jangan tanyakan bagaimana dengan Shizuka, kini semburat merah mudah pun telah
menghiasi kedua pipinya. Merona eh? Ataukah malu? Entahlah, hanya mereka yang
tahu.
OoOoO
Hari yang cerah, sang mentari tampaknya tak malu-malu lagi berdiri
diatas kekuasaannya, menggantung indah dilangit biru—temaram. Tak begitu panas
menyengat, malah menghangatkan pagi yang terbungkus nuansa asri pepohonan.
Kicauan burung pun terdengar, menambah harmoni alam dipagi-indah-itu. Seorang
remaja tampan kini sedang mematut dirinya didepan cermin, entah sudah yang keberapa
kalinya, sambil terus menerus senyum-senyum sendiri—tak jelas—menghias wajah
manisnya. Ada apa gerangan? Apa dia sudah gila? Tentu saja tidak, hanya saja tampaknya
ia senang sekali sekarang dan jangan ada yang bertanya mengapa, karena itu
hanya malah merusak moodnya dipagi yang indah itu. Ia terlihat lebih tampan dan rapi dengan
balutan seragam putih abu-abu plus rumpi dan dasi hijau mudanya. Yah, itu
memang seragam khas sekolahnya. Sudah sekitar delapan bulan yang lalu, semenjak
ia menjadi sosok remaja dengan status sebagai anak SMA kelas satu disalah satu
sekolah negeri di Jepang. Setelah puas manatap siluetnya didepan cermin, ia
segera turun kelantai bawah, berpamitan pada seisi rumah.
“Aku pergi dulu,” kata seorang remaja yang kita tahu adalah Nobita,
sambil mencomot sepotong roti diatas meja makan setelah meminum setengah gelas
susu yang juga terhidang diatas meja.
“Hey Nobita, duduklah dulu dan habiskan sarapanmu dengan tenang,”
ucap seseorang dengan nada yang nyaris berteriak karena Nobita sudah berada
didepan pintu.
“Tidak, terima kasih bu. Aku akan terlambat nantinya,” balas
Nobita dengan nada yang sedikit berteriak.
“Terlambat? Ada apa dengan anak itu? Sekarang kan, baru pukul enam
lewat sepuluh menit?” gumam seorang wanita dengan herannya.
“Tapi tak apalah bu, kapan lagi anak itu bisa serajin ini,” ucap
sang ayah dengan gerakan geleng-geleng kepala tanda tidak mengerti, yang hanya diiringi
anggukan kebingungan dari sang istri-ibu Nobita.
OoOoO
“La..la..la..la..tudududuudududu...lalalalalalalala..........”
Sesekali senandung kecil bernada sangat-teramat-riang-sekali itu terdengar
disela-sela hembusan angin pagi, senyuman lebar yang terpatri diwajah manisnya
pun tak lantas memudar. Seorang remaja terlihat sangat menikmati paginya dihari
yang indah itu dengan tangan yang dilipat kebelakang kepala.. -sangat khas
seorang Nobita- Dan tiba-tiba, sebuah interupsi suara yang menyuarakan namanya
terdengar dari kejauhan..”Nobiitaaaaa..,” panggil seseorang itu dengan sedikit
berteriak sambil terus berusaha berlari-lari kecil untuk memperpendek jarak
diantara mereka. Sontak ia berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya ke
belakang. Samar-samar ia melihat seseorang –nampaknya seorang gadis— ‘Yah tidak
salah lagi, itu memang seorang gadis’ batin remaja laki-laki itu kemudian. Dan
ahhh, cengirannya bertambah lebar sekarang, ketika mendapati bahwa seseorang
–gadis lebih tepatnya— tengah tersenyum manis ke arahnya. Perlahan...semakin
dekat..dekat..sedikit lagi.....daaaann haaapp! Akhirnya gadis itu kini berdiri persis—tepat
dihadapannya.
“Hey..aku pikir kau belum berangkat tadinya,” ucap anak remaja
laki-laki—Nobita mengawali percakapan.
“Hmm...aku juga tidak menyangka kalau... akan bertemu denganmu
disini,” balas gadis itu—Shizuka dengan sedikit gugup diselingi senyum hangat
diwajahnya, yang beruntung sekali berhasil membuat kegugupannya menjadi
tersamarkan dengan senyum–menawan-nya itu. Dan sekali lagi, Nobita tampak
terhipnotis dengan kehadiran gadis didepannya. Lalu tak lama kemudian, ia mulai
bisa menguasai dirinya kembali, dan cepat-cepat berkata.
“Mmh, itu bagus. Itu artinya tak akan ada diantara kita yang
seharusnya menunggu terlalu lama nantinya,”
“Yah, aku rasa juga begitu,” ucap sang gadis sambil terus berusaha
menutupi rona merah yang mulai menjalari wajahnya. Dan setelah itu, keadaan
menjadi hening. Tak ada lagi percakapan kecil yang terlontar dari bibir
keduanya. Masing-masing sibuk melangkah, terbawa dengan pikiran mereka
sendiri-sendiri.
.
.
“Nah, kita sudah sampai,” Nobita tersenyum puas melihat ke
sekelilingnya. Kini mereka sudah berada diatas bukit belakang sekolah mereka
semasa sekolah dasar dahulu. Yah, masih sangat jelas dalam memorinya tentang
tempat itu, tempat yang selalu ia gunakan untuk menghabiskan waktu bermain
bersama teman-temannya, dan tentu saja juga bersama Shizuka. Dan sekarang,
setelah beberapa tahun lamanya, mereka akhirnya kembali ketempat ini, –hanya
berdua— mengambil posisi duduk bersebelahan diatas rerumputan basah sambil
memandangi langit pagi yang masih redup namun terlihat cerah dan indah. Bahkan
bayangan bulan samar-samar pun masih terlihat setia menggantung disisi langit
lainnya, pertanda bahwa ini memang masih terlalu pagi. Dan ahh... pantas saja
ia ngotot untuk berangkat ke sekolah pagi-pagi buta, rupanya hal itulah yang
membuat Nobita sedari tadi terlihat senang sekali, ternyata ia ada janji dengan
Shizuka di bukit belakang sekolah mereka dahulu, —mungkin kemarin mereka
janjian ketika Shizuka menjenguk Nobita di rumahnya, tentu saja tanpa
sepengetahuan Doraemon. Karena kemarin mereka memang sempat mengobrol berdua
ketika Doraemon sibuk mengeringkan kantung ajaibnya yang tak sengaja ditumpahi
jus lemon miliknya sendiri. Dan mungkin saja acara janjian ini, adalah salah
satu yang mereka obrolkan— tapi alih-alih salah satu dari mereka menunggu, tak
disangka-sangka mereka ternyata bertemu dijalan. Hingga akhirnya memutuskan
untuk berjalan bersama saja.
“Mmhh..Shizuka..,” Nobita kini mengalihkan pandangannya, dari
langit pagi beralih ke gadis cantik disebelahnya.
“Yaa...?” sahut gadis itu tanpa menoleh ke arah remaja laki-laki
disampingnya. Ia masih saja terfokus memandangi langit yang tak sepi lagi dengan
kehadiran sang fajar disisinya. Sepertinya ia telah terhipnotis dengan
keindahan sang alam dengan langit pagi sebagai objeknya, yang masih menyisakan
seberkas cahaya temaramnya yang memukau. ‘Sangat menentramkan sanubari’ batin
Shizuka. Namun Nobita tahu, bahwa gadis itu mendengarkannya. Maka ia kemudian
melanjutkan perkataannya lagi.
“Apa kau masih ingat masa-masa kecil kita ditempat ini?”
Hening.......
“Mmhh,
yah semuanya masih nampak jelas dalam ingatanku. Seperti kaset yang terus
berputar-putar dalam memoriku.”
“Dan apa kau juga masih ingat ketika kita dulu salah menggunakan
alat ajaib Doraemon, sehingga kita harus berada disini semalaman?” Tanya
Nobita, “dan...hanya berdua,” tambahnya kemudian. Entah mengapa, remaja
laki-laki itu merasa pipinya memanas dan memerah setelah mengatakan hal itu.
Tak beda jauh dengan wajah Shizuka sekarang. Yah memang kalau diingat-ingat,
kejadian beberapa tahun yang lalu itu bisa saja terjadi dengan begitu romantis
apabila umur mereka sudah seperti saat ini. Dan hey! Apakah ada yang bisa
menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi sehingga membuat wajah kedua remaja itu
seketika memerah seperti kepiting rebus? Aneh, padahal mentari pagi masih
menyunggingkan hangat pemulanya, belum sampai beraksi dengan panasnya yang
begitu terasa ketika disiang hari.
“Err—aku..aku tentu-maaf maksudku tentu saja aku mengingatnya,”
jawab Shizuka sekenanya, agak gugup. Apalagi kini pandangannya tak lagi ke
langit, tetapi tepat masuk ke dalam iris hitam milik Nobita, yang membuatnya
seolah semakin terjebak didalamnya.
“Kau tahu waktu itu bagaimana perasaanku?”
“Hmm,” Shizuka nampak berpikir sejenak kemudian mulai berkata
“Takut mungkin?” Tebaknya dengan ragu-ragu. “Bisa saja kan waktu itu kau takut
dimarahi Doraemon karena salah menggunakan alatnya, atau kau takut dengan kedua
orangtuamu karena belum pulang sampai semalam itu,” kata Shizuka mengakhiri
kesimpulannya. Nobita yang mendengarnya hanya melongo, jelas bukan jawaban
seperti itu yang ia inginkan, tapi jawaban yaanggg— Yang bagaimana hayoo?? “Buuuuuppfff..”
Shizuka berusaha menahan tawanya yang sebentar lagi ia yakini akan meledak
dengan segera kalau saja Nobita masih terus melongo didepannya dan memasang
tampang begonya kembali—sama persis seperti ketika dia masih jadi bocah ingusan
yang sering dikerjai Giant dan Suneo dulu. Dan oh yah, ngomong-ngomong tentang
Giant dan Suneo, kini mereka sudah berubah menjadi anak yang baik terhadap
Nobita. Bahkan Giant tak segan-segan menghajar anak yang ingin berbuat
macam-macam pada Nobita. Dan Suneo? Kini ia tidak lagi menjadi anak sombong—menyebalkan
yang suka memamerkan mainan-mainan barunya, bahkan sekarang ia sangat senang
mengajak Nobita untuk bermain atau
apalah segala macam kegiatannya. Yah, waktu memang terasa begitu cepat berlalu.
Baru saja kemarin rasanya, Nobita merayakan ulangtahunnya yang ke delapan, tapi
sekarang? Lihatlah dia sudah menjadi seorang remaja tampan dengan otak yang
agak encer untuk ukuran remaja seumurannya. Bahkan ia hampir saja menyaingi
kepintaran Dekisugi, kalau saja dia berhasil mendapatkan nilai rapor yang lebih
bagus untuk mata pelajaran matematika. Tapi sayangnya tidak. Tentu saja masih
ada separuh dirinya yang dulu, separuh dirinya yang masih tidak suka dengan
pelajaran matematika, oh memang itu adalah pelajaran dengan berbagai macam
rumus dan penurunannya yang rumit bin susah, itulah pikiran Nobita. “Dan hey! Apakah
tadi aku memikirkan Dekisugi?’ batin Nobita tersadar. Yah, Dekisugi—anak yang
dulunya sangat dicemburui Nobita karena kedekatannya dengan Shizuka. Bahkan hingga
sekarang. Dan tiba-tiba matanya membelalak, seperti sedang teringat sesuatu—sesuatu
yang sedang berusaha dicerna otaknya sekarang. Dipandanginya wajah Shizuka
lekat-lekat—lantas meninggalkan eksperesi begonya tadi.
“Kau kenapa Nobita?” Air muka Shizuka yang tadinya terlihat
menahan tawa kini berubah menjadi serius dan penasaran ketika melihat ekspresi
Nobita yang berubah itu.
“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu,” katanya serius. Yang
ditanyai malah hanya mengerutkan keningnya bingung.
“Tanyakan saja, akan kujawab kalau aku bisa,” ucap sang gadis
setengah yakin.
“Bagaimana perasaanmu dengan Dekisugi? Aku mohon kau mejawabnya
dengan jujur,” mata Nobita terlihat begitu serius, auranya terasa disekeliling
Shizuka. Gadis di depannya terlihat kebingungan dan sulit untuk mengucapkan
sesuatu.
“Maksudmu apa Nobita?”
“Sudah jelas Shizuka, aku menanyakan bagaimana perasaanmu dengan
Dekisugi. Dan soal yang-err—makan malam itu,” Nobita terbata-bata mengucapkan
tiga kata terakhirnya. Shizuka menghela napas panjang, kemudian ia mulai
membuka suara.
“Mmmmh, soal yang itu..err—yah, dia memang menyatakan perasaannya
kepadaku malam itu, ketika kami tengah makan malam bersama. Dan jujur saja, aku
pun sebenarnya terkejut dengan pengakuannya itu, tapi entahlah, karena itulah
yang terjadi,” Nobita yang mendengarnya terasa pucat pasi, ia tidak bisa
membayangkan kalau sekarang gadis manis dihadapannya itu telah dimiliki
seseorang yang telah lama menjadi rivalnya. Seakan seperti sambaran petir
dikepalanya. ‘Tidakk..tidakk, ini salah..ini TIDAK MUNGKIN’ teriaknya dalam
hati, ia mengacak-acak rambutnya frustasi, tak mempedulikan Shizuka yang kini menatapnya
heran kemudian tersenyum penuh arti kepadanya. Ia pun merasa heran, untuk apa
Shizuka tersenyum begitu disaaat kondisi seperti ini? Apakah itu senyum simpati
ataukah senyum bangga karena telah menjadi pacar seorang Dekisugi??? Oh tidak,
berbagai pikiran aneh kini mulai berseliweran di otaknya dan menguasai sebagian
pikirannya. Apakah arti dari senyuman Shizuka itu?
.
.
Flashback On
“Shizuka,” bisik pelan seorang anak laki-laki tampan yang kini
tengah mengenakan setelan kemeja biru dengan celana panjang hitam yang rapi,
duduk disalah satu meja diujung ruangan—restoran dekat jendela. Matanya memandang seorang
gadis cantik bermuka manis dengan senyum merekah—yang menawan didepannya, yang
terlihat makin cantik malam itu dengan balutan gaun berwarna merah marun
melekat ditubuh rampingnya. Kini gadis itu menengadah, mengahadap tepat ke arah
manik yang tengah menatapnya sedari tadi.
“Yah Dekisugi, ada apa?”
“Aku..aku..ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu
malam ini. Kurasa, sekarang adalah saat yang tepat untuk mengataknnya padamu.
Meskipun aku yakin kau akan menganggapku bergurau. Tapi tak bisa ku pungkiri,
akuuu—“
“Yah? Apa yang ingin kau katakan Dekisugi? Katakan saja. Aku
mendengarmu,” potong sang gadis setengah bingung sambil mengernyitkan dahinya.
“Aku..Aku..me-menyukaimu Shizuka,” terang sang anak
laki-lak—langsung to the point. Shizuka terlihat kaget atas pengakuan seseorang
didepannya itu.
“Maksudm--“ Suara Shizuka terputus, ketika sebuah suara sudah
lebih dulu menginterupsi kata yang akan terlontar dari bibir mungilnya.
“Nampaknya sudah sangat jelas maksudku apa, Shizuka. Aku ingin kau
menjadi pa..pacarku,” pinta Dekisugi kemudian. Sementara Shizuka, masih terdiam
ditempatnya, ia seolah menjadi bisu mendadak karena merasa kehilangan suaranya
ketika mendengar permintaan anak laki-laki didepannya. Jelas sekali raut
wajahnya menampakkan kebingungan dan keterkejutan yang luar bias—susah ditebak.
Sebenarnya, tidak ada salahnya ia menerima ‘cinta’ seseorang yang bisa dibilang hampir sempurna
itu. Yah Dekisugi, wajahnya tampan, orangnya baik, dan tentu saja berotak
encer—idaman banyak gadis. Tapi entah mengapa, Shizuka merasa ada yang hilang
saat itu. Ia merasa tidak lengkap, dan apapun keputusannya, sungguh sebenarnya
ia ingin malam ini tidak terjadi saja. Tiba-tiba ia melihat bayangan sosok
Nobita melintas-lintas dalam kepalanya, membuatnya semakin bingung dan merasa
pusing. Yah, wajah manis itu, senyumnya, mata indahnya dibalik kacamatanya,
dan,,dann..oh tidak, kini yang ia pikirkan hanya ada Nobita seorang. Ada apa
sebenarnya? Apakah dia memang sudah jatuh cinta sejak lam terhadap Nobita
atauuuuuu.........???
“Shizuka,,” Suara itu kembali terdengar jelas ditelinganya, membuyarkan
pikirannya, seakan tersadar kembali pada situasi yang sebenarnya, situasi yang
nyata, situasi yang sedang dihadapinya sekarang. “Apa kau masih mendengarkanku?”
Tanya pemuda itu sekali lagi dengan raut wajah yang mencoba meyakinkan lawan
bicaranya.
“Mmmm..aku..aku mendengarkanmu..”
“Lalu, apa jawabanmu?”
“Hmm..sebenarnya...—err aku juga menyukaimu. Yah menyukaimu
sebagai teman lebih tepatnya. Dan aku tidak pernah membayangkan kalau hal ini
akan terjadi,” kata Shizuka pada akhirnya, ia dapat melihat dengan jelas ketika
ia mengucapkan hal itu, tampak sekali terlukis sebersit kekecewaan diwajah
Dekisugi. Dan Dekisugi yakin bahwa ini pertanda tak baik. Dengan begini, ia
sudah tahu jawaban dari petanyaannya barusan, yah meskipun masih tersirat namun
ia paham apa yang sebentar lagi akan dikatakan Shizuka padanya, karena ia
memang anak yang jenius—tentu saja bisa membaca keadaan apabila sudah seperti
ini situasinya.
“Maafkan aku Dekisugi, tapi....... tidak mungkin aku membalas
perasaanmu kan jika itu hanya memunculkan dusta dihati kecilku? Aku tak bisa,
dan aku rasa kaupun pasti tak terima jika aku menerimamu bukan karena aku menyukaimu
sebagai—“
“Yah aku mengerti Shizuka, aku percaya padamu. Dan terima kasih
karena telah menjawab pertanyaan sekaligus perasaanku dengan sangat jujur,
meskipun pada akhirnya harus terasa menyakitkan seperti ini. Tapi kau tahu? Aku
merasa senang dengan jawabanmu, karena sekarang aku tahu, bahwa ternyata cinta
itu sama sekali tak bisa dipaksakan. Dan kau telah mengajariku banyak hal yang
meskipun aku yakin bahwa kau tak pernah menyadarinya,” potong Dekisugi seraya
tersenyum—senyum yang penuh ketulusan. Tidak nampak kebencian, dendam, ataupun
amarah di raut wajahnya. Shizuka yang melihatnya sempat berpikir bahwa Dekisugi
benar-benar anak yang kuat dan bisa menjaga perasaan orang lain, meskipun itu
malah melukai perasaanya sendiri, ia hanya bisa menatapnya simpati, tak tahu
apa yang harus dilakukannya lagi sekarang. Sejujurnya ia juga tak tega
melihatnya, tapi mau bagaimana lagi? Dan setelah beberapa lama di dalam
restoran itu, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Dekisugi pun mengantarkan
Shizuka sampai ke depan rumahnya, dan sebelum berbalik sepenuhnya meninggalkan Shizuka,
sang gadis yang telah berdiri didepan pintu rumahnya itu berkata dengan
pelan—yang sebenarnya cukup jelas untuk didengar Dekisugi.
“Dekisugi, aku yakin kau bisa mendapatkan cintamu. Yang tentu saja
sangat menyayangimu dan tak akan menyia-nyiakanmu, kuharap kau berbahagia,”
ucapnya lirih. Kini gadis itu tengah berdiri mematung, memandang sosok pemuda
didepannya sambil tersenyum kecil. Sang pemuda hanya membalas dengan senyum
ketulusan—lagi.
“Yah, kuingin kau juga bisa berbahagia. Dan aku harap aku bisa
mendapatkan gadis lain dengan wajah yang mirip denganmu. Tidak, aku bercanda.
Aku harap aku akan segera menemukan cintaku, doakan aku yah,” kata sang pemuda
mantap, sebelum pergi meninggalkan halaman rumah sang gadis yang sedari tadi
hanya tersenyum kecut seraya mengangguk kecil tanda mengiyakan. Dan akhirnya
sosok pemuda itu menghilang dalam jangkauan penglihatan, ditelan kegelapan
malam. Shizuka hanya menghela napas lega, ia merasa sangat beruntung karena
Dekisugi telah mau mengerti dan menghargai perasaannya dengan sangat bijak.
Flashback End
.
.
Kembali ke keadaan semula, dimana seorang anak laki-laki terlihat
sedang berpikir keras sambil tetap menatap ngeri pada gadis didepannya. Ia merasa
tak sanggup untuk membayangkan apa yang selanjutnya akan dikatakan gadis
didepannya. Kemudian ia mulai mengumpulkan keberaniannya, dan akhirnya berkata.
“Jadi???” tanya anak laki-laki itu dengan sangat penasaran. Namun,
alih-alih menjawab, yang ditanya hanya kembali memamerkan senyuman manis nan
menawannya itu.
“Menurutmu bagaimana?” Tanya balik gadis itu yang sukses membuat
Nobita tertegun, menelan ludahnya. Akan tetapi melihat ekspresi yang belum
berubah dari anak laki-laki dihadapannya itu, ia menghela napas panjang,
kemudian melanjutkan. “Kau tahu? Aku tidak mungkin menerima seseorang yang tak
kucintai,” senyumannya makin lebar. “Karena orang yang kucintai............”
Shizuka menghentikan kata-katanya sejenak dan menatap manik dihadapannya lembut
dengan penuh arti. Semburat merah kembali menjalari pipi gadis itu. “Adalah kau
Nobita,” terangnya kemudian yang sukses membuat Nobita melongo berusaha
mencerna apa yang dikatakan gadis itu. Dan sejurus kemudian si anak laki-laki
itu mulai mengerti dan ia melompat-lompat riang lalu tanpa perlu dikomando ia memeluk
gadis dihadapannya dengan sangat erat dengan senyuman lebar yang mengembang
diwajah tampannya. Namun tiba-tiba, ia kemudian tersadar.
“Err—maaf, aku tak se..sengaja,” katanya cepat setelah melepaskan
pelukannya sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sebenarnya sama
sekali tidak gatal. Ia jadi salah tingkah sekarang. Shizuka pun tak jauh
berbeda dengannya kini, jelas sekali kedua remaja itu terlihat merona diterpa
sinar hangat sang mentari pagi. Tunggu sebentar. Apa tadi? Sinar hangat mentari
pagi? Oh tidak, memangnya sudah pukul berapa sekarang? Seketika keduanya
tersadar dan melirik arloji masing-masing yang melingkar ditangan mereka.
“Astaga
Nobita! Kita sudah terlambat ke sekolah selama sepuluh menit! Sekarang sudah
pukul tujuh pagi lewat duapuluh lima menit!” Pekik Shizuka tiba-tiba.
“Yah, aku tahu. Tapi apa mau dikata, kita sudah terlambat
sekarang. Dan kuharap kita tidak akan mendapatkan hukuman yang sampai membuat
tulang-tulang retak,” Nobita menjawab keterkejutan Shizuka sekenanya. Yah, ia
mengingat kejadian tiga minggu yang lalu ketika ia terlambat duapuluh menit
saat pelajaran matematika. Langsung saja ia mendapatkan hukuman membersihkan
seluruh toilet di sekolah. Coba bayangkan, seluruh toiliet? Disatu sekolah yang
besar? Oh tentu sangat menguras tenaga.
“Kalau begitu, sebaiknya kita ke sekolah sekarang sebelum kita
terlambat lebih lama lagi dari ini,” Shizuka memberi saran dan beranjak berdiri
setelah menepuk-nepuk rok dan seragamnya yang tadinya tersentuh rumput basah dan
kemudian berniat melangkah meninggalkan bukit, namun sesuatu terasa
mencengkeram lengannya hingga membuatnya berhenti dan berbalik.
“SHIZUKA, AISHITERU!” teriak seorang anak laki-laki yang mencegat
lengannya tadi. Gema suaranya terdengar begitu jelas diatas bukit kecil nan
sepi itu. Shizuka hanya melemparkan senyuman manis nan menawannya—lagi lalu kemudian
berkata.
“Aishiteru Nobita.......” Ungkap Shizuka dengan senyum –paling indah
yang bisa ia berikan— yang masih setia terpatri diwajah manisnya. Nobita yang
mendengarnya menjadi beseri-seri, mendengar pengakuan langsung dari bibir gadis
yang begitu ia sayangi sudah sejak lama itu, yah sejak mereka kanak-kanak dulu,
tak dipungkiri ia memang sudah menyukai Shizuka. Dan sekarang , lihatlah ia
merasa seolah bermimpi bisa mendapatkan pernyataan itu dari Shizuka sendiri.
Siapa yang tidak akan senang? Memang jatuh cinta itu sangat indah dan menyenangkan, seolah-olah dunia
berhenti berputar pada porosnya, memang berlebihan tapi percaya atau tidak,
itulah yang sebenarnya terjadi. Mereka pun berpelukan sekali lagi, sebelum kemudian berjalan bersama-sama menuju sekolah sambil
bergandengan tangan riang , bahkan mereka sempat lupa bahwa mereka telah
terlambat dari jam sekolah yang seharusnya. Tapi namanya juga sedang jatuh
cinta, semuanya akan terasa berjalan dengan sangat indah. Dan mulai saat itu juga,
Nobita berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan selalu melindungi Shizuka
semampunya, sekuat tenaganya, tak akan menyia-nyiakannya dan tak akan membuat
gadis itu sedih dan kecewa.
Huaahhh...Akhirnya fic GaJe nan ancur binti abal ala saya ini
selesai juga dengan total kata keseluruhan berjumlah 4.892.. fiiuuuhh
*ngelap keringet. Hmmmmm.......rasanya masih banyaaaaakkkk banget kekurangan
dan ketidaksempurnaan fic ini, tapi inilah hasilnya. Saya sudah coba usaha, dan
saya harap gak terlalu buruk buat dibaca *ngarep* hehehe.... Dan juga saya mau
minta maaf yang sebesar-besarnya kalau ternyata fic saya yang hina ini malah
bikin kepala readers jadi pusingg. Endingnya jelek-berantakan-gak ngena
feelnya, gak sesuai harapan readers. Maklum, ini fic pertama saya. Maka dari
itu tolong dimengerti, boleh juga dikritik kok! Itung-itung sebagai bahan
pembelajaran dalam menulis bagi saya sendiri. Saya juga jatuh cinta ke dunia
fanfiction karena saya rasa, dengan fanfic, kita bisa bebas mengembangkan
imajinasi ke segala arah. Segala arah? *maksudnya neng?? Sudah LUPAKAN!! Akhir
kata saya cuma mau bilang terima kasih buat yang udah sudi buat buka, mampir
dan baca fic saya ini. ASSALAMUALAIKUM *pamit.......
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)




0 komentar:
Posting Komentar